Senin, 15 Desember 2014

sains - biotekku


TUGAS BIOTEKNOLOGI
PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN





oleh : 

Dina Liswati 
PSB 2012 UNESA 
FMIPA 




 
Tugas :
11.  Lakukan pengamatan terhadap media kultur sederhana dan media MS, masukkan dalam tabel pengamatan berapa media yang steril dan media yang terkontaminasi pada setiap pembuatan media.
22.    Lakukan pengamatan pada eksplan yang dikultur, masukkan dalam tabel pengamatan.
33.  Jelaskan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kontaminasi pada media dan eksplan yang dikultur.
 
44.  Jelaskan bagaimana cara mengatasi masalah kontaminasi tersebut

Pengamatan dan foto :

 
pada media “Dina 1”mengalami kontaminasi
pada media “Dina 1”mengalami kontaminasi

 
pada media “Dina 2” tidak mengalami kontaminasi

I.             Faktor-faktor kontaminasi
Kontaminasi merupakan permasalahan mendasar yang sering terjadi pada kultur in vitro. Pada kondisi media yang mengandung sukrosa dan hara, serta kelembaban dan suhu yang relatif tinggi, memungkinkan mikroorganisme serta spora jamur tumbuh dan berkembang dengan pesat. Kontaminasi pada kultur in vitro dapat berasal dari:
a.       Udara, cahaya, dan suhu
b.      Eksplan, baik secara eksternal maupun internal.
c.       Organisme kecil yang masuk ke dalam media, seperti semut.
d.      Botol kultur serta alat-alat yang kurang steril.
e.       Lingkungan kerja dan ruang kultur yang kotor.
f.       Kecerobohan dalam bekerja.
Setiap eksplan memiliki tingkat kontaminasi permukaan yang berbedan tergantung dari :
a.       Jenis tumbuhannya
b.      Bagian tumbuhan yang dipergunakan
c.       Morfologi permukaan (misalnya berbulu atau tidak)
d.      Lingkungan tumbuhnya (Green house atau lapang)
e.       Musim waktu pengambilan (musim penghujan atau musim kemarau)
f.       Umur tumbuhan (seedling atau tumbuhan dewasa)
g.      Kondisi tumbuhannya (sehat atau sakit)
Mikroorganisme penyebab kontaminasi dapat berupa bakteri, fungi, protozoa, serangga, virus dan lain-lain. Kontaminasi oleh fungi ditandai dengan munculnya benang-benang halus yang berwarna putih, yang merupakan miselium fungi. fungi dapat menginfeksi jaringan secara sistemik sehingga lama kelamaan dapat menyebabkan jaringan eksplan akan mati. Selain itu, kontaminasi oleh bakteri ditandai munculnya bercak-bercak berlendir pada media atau eksplan. Bercak tersebut biasanya berwarna putih yang merupakan koloni bakteri. Bakteri lebih sulit untuk dideteksi dibandingkan dengan fungi karena dapat masuk ke dalam ruang antar sel.

II.          Cara mengatasi kontaminasi
Ada dua istilah dalam permasalahan kontaminasi, yaitu kontaminasi eksternal dan kontaminasi internal.
1.      Kontaminasi eksternal atau kontaminasi permukaan biasanya disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari luar eksplan. Respon kontaminasi eksternal ini sangat cepat karena mikroorganismenya berada permukaan eksplan. Kontaminasi permukaan dapat diatasi dengan cara :
·         Karantina tanaman induk dalam greenhouse
·         Sterilisasi kontak dengan menyikat eksplan dengan sikat halus
·         Pencucian menggunakan berbagai perlakuan bahan kimia dan durasii sterilisasi.
·         Jika permukaan tanaman ditutupi oleh rambut atau sisik, menggunakan detergen dan digoyang –goyang untuk mengilangkan gelembung udara yang mungkin mengandung mikroorganisme.
·          Penggunaan kombinasi bahan sterilan.

2.       Kontaminasi Internal, kontaminasi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari eksplan yang tumbuh dan berkembang secara bertahap dalam kondisi in vitro. Pertumbuhan dan perkambangan mikroorganisme internal biasanya muncul beberapa minggu / bulan setelah di kultur. Kontaminasi internal dapat diminimalisir atau dapat diatasi dengan cara:
·         Karantina tanaman induk dalam greenhouse
·         Menggunakan HgCl2 , antibiotik dan fungisida sistemik
·         Contoh antibiotik alami yaitu propolis
·         Contoh antibiotika sintetik yaitu Plant Preservative Mixture (PPM),  Cefotaxime, Ceftriaxone, Chlorampenicol, Rifampicin, dll.
·         Penggunaan kombinasi bahan sterilan.

Browning/Pencoklatan
Pencoklatan adalah suatu keadaan munculnya warna coklat atau hitam yang menyebabkan tidak terjadi pertumbuhan dan perkembangan atau bahkan menyebabkan kematian pada eksplan. Pencoklatan umumnya merupakan tanda adanya kemunduran fisiologis eksplan biasanya eksplan akan mati.

Browning terjadi akibat pengaruh akumulasi senyawa fenolik yang teroksidasi akibat stress mekanik atau pelukaan pada eksplan. Senyawa fenol tersebut adalah enzim polifenol eksidase dan tirosinase. Dalam kondisi oksidatif akibat pelukaan, enzim tersebut akan secara alami disintesis oleh tanaman sebagai bentuk pertahanan diri. Menurut Laukkanen et al. (1999) dalam Hutami (2008), ketika sel rusak, isi dari sitoplasma dan vakuola menjadi tercampur, kemudian senyawa fenol teroksidasi menghambat aktivitas enzim. Senyawa fenol yang berlebihan akan bersifat racun yang merusak jaringan eksplan dan akhirnya menyebabkan kematian eksplan (Corduk and Aki, 2011).

Menurut saya, pada media kultur jaringan yang mengalami kontaminasi ini terjadi karena pengaruh suhu, cahaya, udara, alat dan bahan yang kurang steril, dan penutupan media yang kurang rapat sehingga udara bisa masuk. Untuk mengatasi hal tersebut, seharusnya yang dilakukan adalah ditempatkan pada suhu yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, cahaya yang cukup, alat dan bahan harus benar-benar disterilkan dengan baik, dan melakukan penutupan media kultur jaringan yang rapat. 





 SUMBER :

http://kultur-jaringan.blogspot.com/2014/03/permasalahan-permasalahan-dalam-kultur.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar